Faizin, Pewaris Dapur Legendaris Pak Nangkis: Semangat Tanpa Padam demi Menjaga Cita Rasa Keluarga

PEKALONGAN — Tidak banyak orang yang mampu menjaga warisan keluarga lebih dari dua dekade. Namun bagi Faizin, putra dari almarhum Pak Nangkis, dapur bukan hanya tempat memasak, melainkan ruang untuk memperjuangkan cita rasa, kenangan, dan nilai hidup yang diwariskan orang tuanya. Di usianya yang kini 49 tahun, pemilik Warung Makan Legend Putra Pak Nangkis itu tetap memegang teguh satu prinsip: “Rasa harus jujur, dan makanan harus lahir dari hati.”
Meneruskan Jejak Sang Ayah
Warung Makan Legend Pak Nangkis sudah berdiri sejak 1997. Ketika sang ayah wafat, Faizin mengambil kendali penuh, termasuk menjaga resep otentik opor nyemek khas keluarga yang telah dikenal luas oleh warga Kedungwuni dan sekitarnya.
Baginya, meneruskan usaha ini bukan hanya tentang berdagang makanan. Ini adalah amanat dan pesan terakhir sang ayah: mempertahankan kejujuran rasa, tidak mengubah resep, dan selalu mengutamakan pelayanan yang ramah.
“Bapak selalu bilang: masak itu ibadah, melayani orang itu ladang sedekah. Selama bisa, pertahankan. Jangan menyerah,” kenang Faizin.
Pesan itu menjadi pegangan hidup yang membuatnya tetap kokoh meski jatuh bangun mengelola usaha warung.
Jatuh Bangun yang Membentuk Mental Baja
Tidak selalu mulus. Faizin pernah menghadapi masa-masa sulit: persaingan kuliner yang semakin ketat, kenaikan harga bahan pokok, hingga kondisi pandemi yang membuat usaha sempat tersendat.
Namun satu hal yang tidak pernah padam darinya adalah semangat juang. Dengan gigih ia bertahan, mulai dari menyesuaikan konsep pelayanan, membuka layanan pesan antar, hingga aktif menjaga hubungan baik dengan pelanggan lama.
Ketekunan itu terbayar. Warung makan yang ia jalankan kini tetap menjadi salah satu tempat makan favorit masyarakat Pekalongan, terlebih bagi mereka yang merindukan cita rasa autentik opor nyemek khas Pak Nangkis.
Turun Langsung: Dari Pasar ke Dapur hingga Menjajakan
Salah satu kunci konsistensi rasa warung legendaris ini adalah cara kerja Faizin yang “all in”. Ia tidak hanya mengawasi; ia turun tangan langsung setiap hari.
Belanja sendiri ke pasar untuk mencari bahan segar, terutama ayam kampung santri pilihan.
Memasak sendiri bumbu dan lauk utama.
Mengurus penyajian dan melayani pelanggan dengan ramah.
Ia meyakini bahwa sentuhan tangan sendiri akan menjaga kualitas dan rasa masakan tetap sama seperti buatan almarhum ayahnya.
Pribadi Ramah yang Disukai Pelanggan
Selain kelezatan opornya, Faizin juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, murah senyum, dan hangat saat berinteraksi. Banyak pelanggan yang sudah menganggapnya seperti saudara sendiri.
Sikap ramah inilah yang membuat pelanggan lama betah kembali, bahkan hingga turun-temurun. Anak dari pelanggan lama pun kini ikut menjadi pelanggan tetap.
Pria Pekerja Keras dengan Kehidupan Sederhana
Di balik kesibukannya mengelola warung, Faizin menjalani hidup sederhana bersama istri dan empat orang anak yang menjadi motivasi terbesarnya. Selain memasak, ia memiliki hobi unik: memelihara burung kolong, yang menjadi pelepas penat di tengah padatnya rutinitas.
Meski telah melewati perjalanan panjang, semangatnya tidak pernah luntur. Ia terus belajar, mencoba ide baru tanpa mengubah jati diri warung, serta menjaga komunikasi akrab dengan pelanggannya.
Konsistensi yang Menjadikannya Inspirasi
Kisah Faizin adalah cerita tentang perjuangan, ketulusan, dan komitmen tanpa syarat terhadap warisan keluarga. Di tengah perkembangan kuliner modern, ia berhasil menjaga agar rasa klasik opor nyemek Pak Nangkis tetap hidup dan digemari.

